Fakta Olahraga Aktif Dapat Membantu Menjaga Kinerja Otak

Fakta Olahraga Aktif Dapat Membantu Menjaga Kinerja Otak

Fakta Olahraga Aktif Dapat Membantu Menjaga Kinerja Otak – Olahraga adalah jenis kegiatan yang sangat populer di dunia termasuk Indonesia. Selain menyehatkan tubuh, olahraga juga menjadi sarana meraih prestasi. Aktivitas fisik merujuk kepada gerakan yang membutuhkan kontraksi otot. Kegiatan sehari-hari seperti naik tangga, berkebun, dan membereskan rumah adalah contoh dari aktivitas fisik.

Bukan rahasia kalau olahraga menyimpan berbagai manfaat untuk kesehatan. Selain mencegah berbagai penyakit kronis seperti penyakit jantung, diabetes, hingga obesitas, olahraga juga menyehatkan otak. Aktivitas dan olahraga aktif membantu menjaga otak tetap berfungsi dan meningkatkan kinerja memori.

Olahraga juga menghambat penurunan fungsi sel saraf pada otak yang terjadi sepanjang usia. Dengan begitu, olahraga disebut juga dapat menangkal penyakit penurunan kognitif, seperti penyakit Alzheimer. Lewat sebuah pengujian terhadap hewan, penelitian terbaru menekankan manfaat olahraga untuk mencegah Alzheimer.

1. Hubungan olahraga dan Alzheimer masih samar
Olahraga Bisa Turunkan Risiko Alzheimer? Ini Faktanya!

Sebagai bentuk paling umum dari gangguan kognitif demensia, penyakit Alzheimer dapat menyebabkan degenerasi bagian otak yang berfungsi untuk berpikir, mengingat, dan berbahasa. Sementara sebagian besar kasus Alzheimer berkaitan dengan usia dan genetik, ternyata faktor gaya hidup amat penting!

Akan tetapi, bagaimana faktor aktivitas fisik melindungi otak dari risiko Alzheimer masih abu-abu. Seiring otak menua, cara regulasi zat besi pada otak juga ikut berubah. Hal ini diklaim dapat memperbesar risiko Alzheimer.

Olahraga Bisa Turunkan Risiko Alzheimer? Ini Faktanya!

Sebuah penelitian gabungan antara Amerika Serikat dan Italia pada tahun 2014 yang berjudul “The role of iron in brain ageing and neurodegenerative disorders” mengaitkan penumpukan zat besi di otak dan perubahan regulasi zat besi di otak. Hasilnya, muncul plak protein beta-amiloid yang umum ditemukan pada otak pasien Alzheimer.

Anggapan umum bahwa olahraga teratur dapat mempercepat metabolisme zat besi pada otak sehingga tidak menumpuk dan membentuk plak beta-amiloid. Namun, lagi-lagi mekanisme ini tidak pasti.

2. Lucunya, melibatkan tikus dan jogging wheel
Olahraga Bisa Turunkan Risiko Alzheimer? Ini Faktanya!

Sebuah studi gabungan antara Australia dan Finlandia berjudul “Regular Physical Exercise Modulates Iron Homeostasis in the 5xFAD Mouse Model of Alzheimer’s Disease” ingin mengetahui hubungan antara olahraga dan risiko Alzheimer genetik. Studi ini dipublikasikan dalam International Journal of Molecular Sciences pada 13 Agustus 2021.

Melibatkan University of Eastern Finland dan gabungan universitas di Australia, para ilmuwan membandingkan tikus yang secara genetik cenderung mengembangkan Alzheimer (5xFAD) dan tikus biasa. Tikus-tikus ini dibagi menjadi empat kelompok:

  • Tikus biasa yang tidak olahraga
  • Tikus biasa yang olahraga
  • Tikus 5xFAD yang tidak olahraga
  • Tikus 5xFAD yang olahraga

Para tikus menggunakan jogging wheel sebagai sarana olahraga, dan program olahraga berlangsung selama 1,5 sampai 7 bulan. Para ilmuwan kemudian mengukur kadar zat besi dan protein penting untuk mengatur zat besi di otak dan otot tikus.

3. Hasil: olahraga menurunkan risiko Alzheimer lewat regulasi zat besi pada otak
Olahraga Bisa Turunkan Risiko Alzheimer? Ini Faktanya!

Hasilnya, olahraga diketahui mengurangi kadar protein feritin dan hepsidin yang meningkatkan aktivitas penumpukan zat besi di korteks otak. Selain itu, olahraga diketahui menurunkan kadar beta-amiloid di otak tikus, senyawa yang umum ditemukan pada otak pasien Alzheimer.

Konsentrasi molekul sinyal interleukin-6 (IL-6) lebih rendah pada korteks dan plasma darah tikus yang aktif berolahraga. Dengan kata lain, risiko inflamasi atau  peradangan pada otak lebih minim.

Bukan hanya pada tikus, olahraga juga berguna menekan kadar IL-6 pada manusia! IL-6 dapat melewati sawar darah-otak dan meningkatkan penumpukan zat besi melalui efeknya pada hepsidin selama inflamasi. Dengan menekan IL-6 lewat olahraga, maka otak terlindung dari homeostasis besi, sebuah tanda penuaan otak dan Alzheimer.

4. Penelitian terdahulu oleh instansi yang sama
Olahraga Bisa Turunkan Risiko Alzheimer? Ini Faktanya!

Sebelum studi ini dipublikasikan pada Agustus 2021, pada September lalu, ternyata ilmuwan dari Finlandia dan Australia juga bekerja sama. Lewat penelitian bertajuk “Astrocyte remodeling in the beneficial effects of long-term voluntary exercise in Alzheimer’s disease”, mereka ingin melihat hubungan Alzheimer dan olahraga pada tikus.

Sama-sama menggunakan tikus 5xFAD dan tikus biasa, mereka melihat bahwa olahraga bermanfaat besar untuk mengurangi risiko Alzheimer. Bahkan, para peneliti Finlandia dan Australia menemukan bahwa olahraga dapat “membalikkan” risiko penurunan kognitif yang khas dengan penyakit Alzheimer pada tikus.

5. Kekurangan penelitian yang baru menggunakan tikus
Olahraga Bisa Turunkan Risiko Alzheimer? Ini Faktanya!

Hasil penelitian ini memang menjanjikan untuk perkembangan penelitian Alzheimer. Akan tetapi, kekurangan utama dari studi ini adalah karena baru menggunakan hewan sebagai subjek.

Dengan kata lain, penelitian ini tidak mencakup faktor berbeda antara Alzheimer pada manusia dan hewan. Selain itu, faktor olahraga juga kemungkinan memiliki efek yang berbeda pada regulasi zat besi di otak tikus dan manusia.

Jenis olahraga yang umum dilakukan oleh masyarakat sehari-hari contohnya adalah lari, jogging, bersepeda, renang, dan senam. Selain itu, pada era modern seperti sekarang ini, ada banyak cabang olahraga yang di pertandingkan baik di level nasional atau internasional.

Di Indonesia sendiri ada beberapa cabang olahraga yang menjadi favorit masyarakat. Lima jenis olahraga favorit masyarakat Indonesia adalah sepak bola, bulu tangkis, bola voli, tenis meja, dan bola basket.