Beberapa Faktor Pembakaran Kalori Selain Dengan Berolahraga

Beberapa Faktor Pembakaran Kalori Selain Dengan Berolahraga

Beberapa Faktor Pembakaran Kalori Selain Dengan Berolahraga

Beberapa Faktor Pembakaran Kalori Selain Dengan Berolahraga  – Menurut sebuah studi yang dilansir dari Medical News Today, kemampuan pembakaran energi seseorang itu berfluktuasi sepanjang hari. Nah, penelitian yang dipublikasikan dalam Current Biology melaporkan, jam internal tubuh memengaruhi waktu pembakaran kalori. Artinya, tanpa olahraga pun, tubuh tetap bisa membakar kalori.

Untuk mengetahui lebih banyak tentang kemampuan pembakaran kalori, para peneliti melibatkan tujuh orang partisipan. Mereka diminta untuk tinggal di lingkungan laboratorium yang terisolasi, tanpa jendela, jam, telepon, dan internet. Itu berarti mereka tidak memiliki petunjuk tentang waktu. Saat berolahraga (baik intensitas ringan atau berat), salah satu gol yang ingin dicapai adalah pembakaran kalori.

Untungnya, dengan perkembangan teknologi kesehatan dan olahraga masa kini, pemantauan pembakaran kalori jadi lebih mudah. Mungkin, kamu melihat bahwa orang-orang memiliki tingkat pembakaran kalori yang berbeda. Jawaban singkatnya adalah tergantung dari metabolisme tubuh. Namun, ternyata, ada beberapa faktor lain yang melatarbelakangi.

Tingkat kebugaran
6 Faktor Utama yang Pengaruhi Pembakaran Kalori, Catat!

Pernah dengar pepatah, “Bisa karena biasa”? Makin sering kamu melakukan satu gerakan olahraga atau mengangkat beban tertentu, maka makin mudah, kan? Seiring waktu, tubuh memang beradaptasi sehingga olahraga yang tadinya berat menjadi mudah. Namun, hal ini dapat memengaruhi pembakaran kalori.

Karena terbiasa, tubuh membakar kalori lebih sedikit meski menjalani latihan yang sama. Inilah mengapa orang yang baru mulai berolahraga membakar kalori lebih banyak dibanding mereka yang sudah lama berolahraga. Oleh karena itu, cobalah ubah rutinitas olahraga untuk meningkatkan kebugaran dan laju pembakaran kalori.

Usia
6 Faktor Utama yang Pengaruhi Pembakaran Kalori, Catat!

Sementara massa otot menentukan pembakaran kalori, kita tak bisa melawan arus waktu. Seiring usia bertambah, massa otot berkurang. Malah, setelah melewati usia kepala tiga, kita mulai kehilangan 3-5 persen massa otot per dekade. Mengapa begitu? Alasannya tidak diketahui dengan jelas.

Sebuah penelitian di Inggris tahun 2017 menjelaskan mengenai fenomena penurunan massa otot dan usia tersebut. Hal ini diduga karena tubuh menolak hormon yang memicu sintesis protein dan penting untuk pemeliharaan massa otot. Karena massa otot berkurang, laju metabolisme juga ikut berkurang dan pembakaran kalori jadi sedikit.

Namun, sebuah penelitian gabungan terkini membantah hal tersebut. Melibatkan lebih dari 6.000 partisipan berusia 8 hari hingga 95 tahun, penelitian yang dimuat dalam jurnal Science tahun 2021 tersebut menemukan bahwa laju metabolisme tetap stabil di usia 20-60 tahun, lalu baru melandai.

6 Faktor Utama yang Pengaruhi Pembakaran Kalori, Catat!

Tunggu dulu, ini bukan berarti laju pembakaran kalori tetap sama sepanjang usia! Selain manusia belum mengerti dan dapat menghitung metabolisme secara akurat, penuaan membawa berbagai perubahan pada tubuh manusia yang bahkan tak dimengerti oleh para pakar.

Tentu saja, usia terus bertambah dan kita tak bisa menghentikannya. Namun, kita bisa menjaga atau bahkan menambah massa otot dengan program olahraga kekuatan otot secara rutin. Dengan begitu, laju metabolisme jadi bertambah dan pembakaran kalori tetap optimal dari waktu ke waktu.

Massa otot
6 Faktor Utama yang Pengaruhi Pembakaran Kalori, Catat!

Makin padat massa otot seseorang, maka kalori yang terbakar jadi lebih banyak. Pada dasarnya, jaringan otot membakar lebih banyak kalori daripada jaringan lemak. Sebagai perbandingan, jaringan otot membakar lima kalori per hari, sedangkan lemak membakar jaringan lemak membakar dua kalori per hari.

Saat olahraga, tubuh butuh energi untuk mendukung peningkatan kontraksi otot. Oleh karena itu, memiliki massa otot yang lebih besar meningkatkan total pembakaran kalori. Dengan kata lain, jika ingin membakar kalori, cobalah berolahraga dengan intensitas berat yang menyasar otot tubuh.

Jenis kelamin
6 Faktor Utama yang Pengaruhi Pembakaran Kalori, Catat!

Pada umumnya, tubuh laki-laki memang membakar lebih banyak kalori—baik saat bergerak atau beristirahat—dibanding perempuan. Bukan hal yang mengejutkan, ini karena kaum adam memiliki tubuh yang lebih besar dan massa otot yang lebih padat dibanding kaum hawa.

Apakah perempuan bisa menambah massa otot? Bisa saja. Namun, ada perbedaan fisiologis yang mendasari pembakaran kalori. Salah satunya adalah secara genetik, yang mana perempuan menumpuk lebih banyak lemak untuk mendukung produksi hormon dan persiapan persalinan.

National Institute of General Medical Sciences menjelaskan bahwa lemak tubuh amat penting untuk menjalankan fungsi tubuh seperti menyimpan energi hingga melindungi organ dalam. Selain itu, lemak dibutuhkan tubuh untuk tumbuh kembang, sistem imun, produksi hormon, reproduksi, serta metabolisme.

6 Faktor Utama yang Pengaruhi Pembakaran Kalori, Catat!

Menurut American Council on Exercise (ACE), laki-laki butuh minimal 2-5 persen lemak untuk tetap sehat, sedangkan perempuan butuh 10-13 persen. Sebuah penelitian di Jepang pada 2020 menjabarkan bahwa di usia kurang dari 40, laki-laki butuh lemak 8-20 persen, sementara perempuan butuh 21-33 persen.

Sejatinya, hubungan antara jenis kelamin, kesehatan, dan lemak tidak sesederhana itu. Daripada memikirkan faktor jenis kelamin, cobalah untuk berfokus pada faktor lainnya yang bisa kamu ubah. Cobalah latih otot dan meningkatkan kesehatan kardiovaskular lewat latihan kardio dan latihan kekuatan otot yang memadai.

Berat tubuh
6 Faktor Utama yang Pengaruhi Pembakaran Kalori, Catat!

Everyday Health melansir bahwa makin berat tubuh seseorang, maka makin banyak kalori yang terbakar saat berolahraga. Hal ini dikarenakan saat bergerak (baik biasa maupun berolahraga), mereka yang bertubuh besar mengeluarkan energi yang lebih banyak.

Selain itu, tubuh yang lebih besar cenderung memiliki organ dalam yang lebih besar juga. Organ dan proses juga membutuhkan energi dari pembakaran kalori. Menurut sebuah studi di Jerman tahun 2011, variasi pembakaran kalori dipengaruhi oleh ukuran organ dalam tubuh.

Dengan kata lain, tubuh membakar kalori lebih sedikit seiring berat badan berkurang. Selain itu, sebuah penelitian di Amerika Serikat (AS) tahun 2015 menjelaskan bahwa penurunan berat badan dapat memengaruhi pembakaran lemak, lebih mudah lapar (akibat produksi hormon grelin), dan tidak cepat kenyang (penurunan hormon leptin).

6 Faktor Utama yang Pengaruhi Pembakaran Kalori, Catat!

Jika berolahraga dan penurunan berat badan justru membuatmu cepat lapar dan mengonsumsi kalori berlebihan, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan ahli gizi. Dengan begitu, penurunan berat badan tak perlu diikuti konsekuensi yang membuat berat badan meroket lagi.

Selain itu, olahraga sebenarnya tidak melulu soal berat badan. Sebuah penelitian di AS tahun 2021 mengutarakan bahwa meskipun olahraga tak mengarah pada penurunan timbangan jangka panjang, kondisi kesehatan jauh lebih baik dan risiko kematian dini pun jauh berkurang.

Meski tubuh memiliki waktunya sendiri untuk membakar kalori, pembakaran kalori yang paling efektif adalah ketika Anda berusaha aktif bergerak, dalam hal ini olahraga. Ketika Anda lebih banyak membakar kalori ketimbang makan, otomatis berat badan akan menurun.

Setiap orang memiliki waktu penggunaan energi yang berbeda. Jika tubuh Anda membakar lebih banyak kalori di siang dan sore hari, sebaiknya jadikan makan siang sebagai waktu makan besar Anda. Sebab, meski makan banyak di siang hari, tubuh tidak akan gemuk karena kalori dari makanan tersebut langsung dibakar dengan cepat!

Sebaliknya, jika Anda menjadikan makan malam sebagai waktu makan besar Anda, yang terjadi adalah peningkatan berat badan. Sebab, malam adalah waktu di mana tubuh memiliki proses metabolisme lambat, sehingga kalori yang dibakar hanya sedikit. Terlebih lagi jika tak lama kemudian Anda langsung tidur.